This is it
Not sure when I'll update this blog again.
Meanwhile, happy new year 2012.
All the best and many happy returns.
@ Cartoon from Graham Wilson found on CartoonBank
Not sure when I'll update this blog again.
Meanwhile, happy new year 2012.
All the best and many happy returns.
@ Cartoon from Graham Wilson found on CartoonBank
I think wisdom and sense of humor go hand in hand, as exemplified by how Ramona Pierson share her amazing recovery from her near death experience.
Bersemayam di makam sederhana bertabur kentang ini adalah mendiang Friedrich der Große, salah satu raja Prussia terbesar. Kentang-kentang berserak di atas makam ini bukanlah penghinaan. Mereka ditabur sebagai pengingat jasa almarhum dalam mempopulerkan kentang di Eropa.
Makanan asli suku Inca di Amerika Selatan ini diperkenalkan ke Eropa oleh penjelajah dari Spanyol. Tetapi tidak mudah bagi penduduk Eropa pada saat itu untuk menerima makanan baru yang masih asing. Kalangan atas yang terpelajar lebih mudah untuk menghargai nilai makanan baru. Mereka sudah menyadari bahwa kentang merupakan sumber pangan yang bisa tumbuh di berbagai kondisi cuaca, dan tahan lama setelah di panen, dan merupakan solusi yang baik untuk mencegah bahaya kelaparan saat gagal panen. Sementara khalayak umum masih curiga dengan makanan baru yang datang dari Amerika Selatan ini. Ketika Frederick the Great memerintahkan rakyatnya untuk menanam kentang sebagai pencegahan atas kemungkinan bencana lapar, mereka protes, "Bahkan anjing pun tidak mau makan kentang, kenapa kami harus makan makanan seperti itu?" Untungnya Frederick the Great tidak kehilangan akal. Dia memang seorang yang cerdik, ahli perang yang juga teman diskusi Voltaire ini menggunakan reverse psychology untuk membujuk orang-orang agar mau menerima kentang. Dia menanam kebun kentang kerajaan di dekat hunian penduduk. Perkebunan tersebut dijaga oleh pasukan pengawal siang malam. Warga menjadi penasaran, dan berpikir bahwa apapun yang dijaga ketat, pasti berharga dan layak untuk dicuri. Akhirnya "kentang kerajaan" pun mulai menjadi populer dan bisa dinikmati masyarakat Eropa sampai saat ini.Berita tentang ibu Siami ini memang sangat memprihatinkan. Memprihatinkan dan membuat bertanya-tanya mengapa bisa sampai seperti itu ? Mengapa sampai secara berjamaah para guru, murid, dan bahkan warga sekampung mengabaikan nilai-nilai kejujuran, menghalalkan segala cara untuk kelulusan ?
Ada gerakan bagus #IndonesiaJujur yang mengajak kita untuk menghargai kejujuran. Gerakannya bagus, dan semoga semangat kejujuran ini bisa tetap terjaga. Tapi apakah gerakan ini menyentuh akar dari permasalahan yang melatarbelakangi kasus ibu Siami itu ? Entahlah. Saya tidak terlalu yakin.
Seandainya tahun depan, sekolah yang sama tetap tidak siap menghadapi ujian nasional, dan mereka dihadapkan pada kondisi dan pilihan yang kurang lebih sama, demi menjaga semangat dan nilai kejujuran itu, apa saja yang siap untuk mereka korbankan ?
Ada video menarik yang mengupas permasalahan yang lebih mendasar dari masalah etika, tapi menyentuh masalah yang lebih mendasar terkait pendidikan. Ini adalah pendapat dari Sir Ken Robinson, seorang penulis dan pendidik :
Sir Ken Robinson bahkan sampai mengatakan bahwa model pendidikan yang ada sekarang ini sudah tidak lagi bisa diperbaiki, tapi harus dirombak habis, harus ada revolusi pendidikan. Mungkin saya tidak sampai hati untuk menyetujui saran revolusi pendidikan, karena terlalu rumit untuk diterapkan di Indonesia. Tapi paling tidak identifikasi masalah, bahwa ada kesalahan mendasar yang lebih dari sekedar masalah etika, saya rasa saya sangat setuju dengan beliau. Semoga akan ada perbaikan dalam dunia pendidikan di Indonesia supaya kasus Ibu Siami ini tidak terulang lagi.
Ada bermacam cara untuk mempelajari suatu hal yang baru. Waktu kecil kita belajar meniru apa yang dilakukan orang tua. Kita memperhatikan apa saja yang mestinya dilakukan, mendengarkan apa saja yang harus dihindari. Anak kecil yang selalu patuh, mengikuti petunjuk dan tidak pernah melawan peringatan biasanya kita juluki sebagai anak baik, anak pintar. Anak kecil yang selalu membantah, tidak mau mengikuti perintah, malah cenderung tertarik untuk mencoba melakukan hal yang dilarang, biasanya kita juluki sebagai anak bandel, ngeyelan.
Si anak baik yang selalu manut, mungkin akan menjalani hidupnya dengan lancar meniti jalan kehidupan sesuai rambu-rambu yang sudah dipersiapkan oleh orang tuanya. Si anak bandel yang selalu ngeyel, mungkin akan bolak balik tersandung dalam perjalanan hidupnya, hidupnya lebih bervariasi dan sering membuat orang tuanya mengurut dada. Sepertinya kalau harus memilih mending mana punya anak bandel ngeyelan, atau anak baik yang selalu manut ? Mungkin tidak akan ada yang memilih anak bandel ngeyelan. Kecenderungan untuk menganggap anak-anak bandel dan ngeyelan ini tidak bisa diharapkan lagi, memang bisa dimaklumi.
Tapi barangkali kecenderungan ini tidak selalu akurat.
Manut mengikuti rambu-rambu yang sudah dianggap baik tanpa mempertanyakan lagi, memang lebih mudah daripada ngeyel dan mencoba-coba berjalan tanpa rambu sambil menyusun peta sendiri. Yang pertama berjalan dengan mengandalkan pengalaman orang lain dan tidak perlu membuat penilaian tersendiri. Yang ke dua mempertanyakan kembali kemana harus melangkah di setiap percabangan, kalau ternyata keliru ya konsekuensinya ditanggung sendiri.
Berjalan mengikuti peta yang dibuat oleh orang lain akan membawa kita sampai ke tujuan, asalkan kita melintasi daerah yang memang sudah dijelajahi sebelumnya.
Bagaimana ketika kita harus berjalan melintasi wilayah yang masih belum pernah dikunjungi ?
Anak baik mungkin akan berhenti berjalan menunggu sampai ada rambu-rambu yang mengijinkannya melangkah.
Anak bandel ? Barangkali dia akan ngeyel berjalan terus sambil memetakan apa yang akan terjadi di depan.
Toh selama ini dia sudah biasa berjalan tanpa peta.
Waktu anak saya mengambil buku ini untuk dipinjam dari perpustakaan saya kaget: "Lho kok tumben pinjem buku yang bukan tentang Dinosaurus ?" Itu ada bendera Axis, seperti yang di Enemy Territory. Ternyata bocah itu salah ambil buku karena lambang Swastika yang ada di game. Dia hanya tertarik dengan gambarnya.
Untung Ananta hanya tertarik dengan gambarnya, bukan propagandanya. Judul buku itu serem: Propaganda in oorlog & vredestijd, het manipuleren van de waarheid (propaganda di masa perang dan masa damai, manipulasi kebenaran) . Mau jadi apa kalau kecil-kecil sudah tertarik untuk belajar bagaimana caranya memanipulasi kebenaran ?
Gambar-gambar di buku ini tidak terlalu banyak, tidak menarik untuk anak kecil, tapi karena kadung dipinjam akhirnya buku itu pun dibaca oleh ayahnya. Karena tidak berminat untuk mendalami propaganda, saya hanya baca sekilas beberapa halaman awal dan akhir. Pada bagian awal ada definisi propaganda sebagai mekanisme untuk menggunakan informasi dalam rangka memanipulasi opini publik, terlepas dari kebenaran ataupun kelengkapan dari informasi yang disajikan.
Pada bab terakhir ada penjelasan tentang Institute for Propaganda Analysis yang dibangun di Amerika pada tahun 1937. Lembaga ini didirikan atas dasar kekhawatiran karena banyaknya propaganda di masa-masa menjelang perang dunia ke II. Banyaknya propaganda ini melemahkan kemampuan publik untuk berpikir kritis dan memiliki opini sendiri, sehingga mereka menjadi sangat mudah dipengaruhi. IPA mengidentifikasi 7 instrumen propaganda yang perlu diwaspadai.
Untuk menghindari diskusi yang objektif dan kritis tentang suatu masalah, teknik naam noemen (name calling) bisa digunakan. Panggil saja seorang politisi sebagai pembohong, penculik, atau koruptor berlumpur, maka diskusi selanjutnya dijamin akan berlanjut emosional :D.
Mendobos dengan menggunakan jargon-jargon indah yang membuai seperti misalnya demokratis, demi masyarakat madani, reformasi, kebijaksanaan lokal akan membangkitkan emosi positif korban propaganda. Apapun yang berikutnya diucapkan bisa secara tidak sadar diamini oleh pendengar karena terlanjur terbuai oleh jargon-jargon indah yang diselipkan. Teknik ini dikenal dengan sebutan schoene algemeenheid (glittering generalities).
Minjem nama orang lain untuk kesaksian juga sepertinya dianggap sebagai teknik yang ampuh. Misalnya gunakan saja pendapat tokoh agama untuk memperkuat pendapat anda. Teknik overdracht (transfer) dan getuigenistechniek (testimony) ini sering digunakan sejak jaman Orde Baru, "para tokoh agama ingin Haji Suharto jadi presiden lagi !" adalah teknik lagu lama yang dulu sering terdengar sampai bosan selama lebih dari 30 tahun.
Penggunaan kata Orde Baru sendiri sebenarnya merupakan salah satu contoh glittering generalities tadi, ndobos menggunakan kata-kata "Baru" yang terkesan menjanjikan, penuh harapan dan tetap digunakan sampai orde baru itu sudah hancur puluhan tahun kemudian.
Pada jaman perang dunia ke dua Hitler menggunakan teknik gewone volk (plain folks) menempatkan diri sebagai orang biasa. Orang biasa yang sama dengan target propaganda, yang sangat peduli dengan kepentingan bangsanya. Teknik ini biasanya digunakan bareng dengan teknik meelopen (bandwagon), kalo semua orang ikut mendukung Hitler masa kamu ketinggalan ? Ayo ikut. Kira-kira dulu propaganda Nazi begitu.
Teknik propaganda lain yang biasa digunakan juga adalah kaarten steken (card stacking), kalau ada informasi baik dan buruk tentang sesuatu, kita bisa memilih hanya untuk membahas yang baik-baiknya saja jika ingin melakukan propaganda positif, atau memilih untuk mengungkapkan yang buruk-buruknya saja jika ingin membuat citra negatif. Memilah informasi sesuai kebutuhan ini sudah biasa kita lihat sehari-hari dalam iklan-iklan yang mempromosikan produknya ataupun juga media yang menjadi corong kepentingan politik tertentu.
Makanya hati-hati dengan para ahli periklanan yang sudah terbiasa melakukan propaganda positif terhadap produknya. Begitu mereka masuk ke lahan politis, mereka akan jadi propagandist yang handal :)
Resignation is of two sorts, one rooted in despair,
the other in unconquerable hope.
~Bertrand Russel
Kepasrahan, menurut Bertrand Russel bisa berakar dari keputusasaan, tapi bisa juga berakar dari harapan yang tidak terpupuskan. Ketika seseorang memiliki suatu harapan yang melintasi batas kepentingan pribadinya, ketika seseorang percaya akan sesuatu tujuan mulia yang selama ini ingin dicapainya. Maka segala rintangan hidup akan dapat dijalani dengan keikhlasan dan kepasrahan yang bersumberkan pada harapan tersebut.
Kutipan di atas berasal dari salah satu buku Bertrand Russel yang mungkin jarang dibaca orang:The Conquest of Happiness. Buku tersebut ditulis pada saat Russel berusia 58 tahun, di ujung pernikahan yang ke dua saat istrinya mengandung janin yang ternyata bukan darah dagingnya sendiri, tetapi merupakan anak Griffin Barry, seorang jurnalis dari Amerika. Barangkali buku ini merupakan usaha Russel untuk menghadapi kenyataan yang pahit, dalam usahanya untuk tetap terus melangkah.
Ternyata dalam keadaan yang tertekan Bertrand Russel masih mampu menghasilkan buku yang menurut artikel ini mengandung pemikiran-pemikiran yang sejalan dengan Cognitive Therapy, salah satu metode terapi psikologis yang kalau saya tidak salah tangkap, berbeda dengan psychoanalysis-nya Freud atau behavioural therapy-nya Skinner.
(disclaimer: mulai dari kalimat ini ke bawah, kemungkinan besar isinya tidak akurat karena saya bukan psikolog, tapi ini hanya interpretasi dan pemahaman saya tentang artikel di atas).
Freud berusaha menggali alam bawah sadar, karena percaya bahwa dengan memahami apa yang ada di alam bawah sadar, apa yang ada di alam sadar bisa lebih mudah dimengerti. Sementara terapi kognitif mencoba untuk menggunakan pemikiran di alam sadar (conscious thought) untuk mempengaruhi apa yang berjalan secara otomatis di alam bawah sadar (subconscious thoughts).
Alam bawah sadar biasanya berjalan secara otomatis. Automatic thoughts,secara tidak sadar ada pemikiran yang bisa memicu munculnya pemikiran lain tanpa kita sadari. Kadang pemikiran otomatis ini tidak rasional, tidak masuk akal tapi berjalan secara otomatis sehingga akhirnya berujung dengan kecemasan, depresi dan ketidak tenangan batin.
Apa kata Russel tentang bagaimana kita mesti menyikapi pemikiran otomatis yang punya kecenderungan untuk berpikir negatif dan selalu cenderung meramalkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi ?
When some misfortune threatens, consider seriously and deliberately what is the very worst that could possibly happen. Having looked this possible misfortune in the face, give yourself sound reasons for thinking that after all it would be no such very terrible disaster. Such reasons always exist, since at the worst nothing that happens to oneself has any cosmic importance.
When you have looked for some time steadily at the worst possibility and have said to yourself with real conviction, "Well, after all, that would not matter so very much", you will find that your worry diminishes to a quite extraordinary extent.
Apa yang dikatakan Russel ini ternyata sejalan dengan dasar-dasar terapi kognitif yang baru tiga puluh tahun kemudian mulai dipraktekkan. Saat menghadapi kecemasan dan ketidak pastian, kita mungkin bisa mencoba merunut jalan pikiran yang menjadi akar kecemasan ini, barangkali ada pemikiran otomatisyang sebenarnya tidak rasional dan tidak perlu didengarkan.
Sehingga apapun yang terjadi akhirnya bisa dihadapi dengan kepasrahan yang tetap berlandaskan pada pengertian, penerimaan dan harapan.
Didedikasikan untuk seorang penggemar BB Russel di Indonesia,
yang sepertinya sekarang sedang gelisah.