Bandel
Ada bermacam cara untuk mempelajari suatu hal yang baru. Waktu kecil kita belajar meniru apa yang dilakukan orang tua. Kita memperhatikan apa saja yang mestinya dilakukan, mendengarkan apa saja yang harus dihindari. Anak kecil yang selalu patuh, mengikuti petunjuk dan tidak pernah melawan peringatan biasanya kita juluki sebagai anak baik, anak pintar. Anak kecil yang selalu membantah, tidak mau mengikuti perintah, malah cenderung tertarik untuk mencoba melakukan hal yang dilarang, biasanya kita juluki sebagai anak bandel, ngeyelan.
Si anak baik yang selalu manut, mungkin akan menjalani hidupnya dengan lancar meniti jalan kehidupan sesuai rambu-rambu yang sudah dipersiapkan oleh orang tuanya. Si anak bandel yang selalu ngeyel, mungkin akan bolak balik tersandung dalam perjalanan hidupnya, hidupnya lebih bervariasi dan sering membuat orang tuanya mengurut dada. Sepertinya kalau harus memilih mending mana punya anak bandel ngeyelan, atau anak baik yang selalu manut ? Mungkin tidak akan ada yang memilih anak bandel ngeyelan. Kecenderungan untuk menganggap anak-anak bandel dan ngeyelan ini tidak bisa diharapkan lagi, memang bisa dimaklumi.
Tapi barangkali kecenderungan ini tidak selalu akurat.
Manut mengikuti rambu-rambu yang sudah dianggap baik tanpa mempertanyakan lagi, memang lebih mudah daripada ngeyel dan mencoba-coba berjalan tanpa rambu sambil menyusun peta sendiri. Yang pertama berjalan dengan mengandalkan pengalaman orang lain dan tidak perlu membuat penilaian tersendiri. Yang ke dua mempertanyakan kembali kemana harus melangkah di setiap percabangan, kalau ternyata keliru ya konsekuensinya ditanggung sendiri.
Berjalan mengikuti peta yang dibuat oleh orang lain akan membawa kita sampai ke tujuan, asalkan kita melintasi daerah yang memang sudah dijelajahi sebelumnya.
Bagaimana ketika kita harus berjalan melintasi wilayah yang masih belum pernah dikunjungi ?
Anak baik mungkin akan berhenti berjalan menunggu sampai ada rambu-rambu yang mengijinkannya melangkah.
Anak bandel ? Barangkali dia akan ngeyel berjalan terus sambil memetakan apa yang akan terjadi di depan.
Toh selama ini dia sudah biasa berjalan tanpa peta.