Amsterdamse Bos

Bayangkan, dunia  resesi global; ekonomi memburuk sangat parah. Orang-orang kehilangan pekerjaan,  banyak pengangguran. Sejarah mengenang masa ini sebagai the Great Depression.  Zaman seperti itu, apa ada yang sempat mikir untuk membangun hutan buatan seluas 1000 hektar ? 

Ada, orang-orang Amsterdam. Itulah yang terjadi pada awal tahun 1930'an. Demi menyediakan sarana hiburan yang mudah dijangkau warga tanpa kendaraan pribadi, sembari mengatasi masalah pengangguran, Boschplan, rencana hutan buatan tetap dilaksanakan. Sekarang hasil Boschplan ini dikenal dengan sebutan Amsterdamsebos, hutan Amsterdam;   satu dari sekian banyak hiburan gratis di Amsterdam. 

Tempat wisata luas yang bisa dinikmati dengan berjalan kaki atau bersepeda.  Sepertiga dari hutan buatan ini berupa danau, sehingga kano, sepeda air ataupun perahu motor pun bisa digunakan untuk menikmatinya. Di tengah hutan buatan ini juga ada teater terbuka dibalik pepohonan, yang kadang digunakan untuk pagelaran seni.  Yang paling menarik bagi anak-anak adalah adanya boederij/peternakan. Anak-anak bisa bermain dengan sapi, ayam, atau memberi minum susu pada kambing-kambing yang masih kecil.

Seandainya masih ada 1000 hektar tanah kosong di Jakarta, mungkinkah hal yang sama terjadi? Rasanya tidak. Jangankan saat krisis, pada saat normal saja akan lebih banyak mal yang dibangun ketimbang sarana hiburan umum. Atau barangkali akan jadi kompleks hunian baru dari pengembang real estate.

Prioritasnya beda, di Indonesia kepentingan  pemilik modal dari mal dan real estate lebih diutamakan daripada kebutuhan warga akan hiburan murah yang alami :).