Raja Kentang

Bersemayam di makam sederhana bertabur kentang ini adalah mendiang Friedrich der Große, salah satu raja Prussia terbesar. Kentang-kentang berserak di atas makam ini bukanlah penghinaan. Mereka ditabur sebagai pengingat jasa almarhum dalam mempopulerkan kentang di Eropa.

Makanan asli suku Inca di Amerika Selatan ini diperkenalkan ke Eropa oleh penjelajah dari Spanyol. Tetapi tidak mudah bagi penduduk Eropa pada saat itu untuk menerima makanan baru yang masih asing.  Kalangan atas yang terpelajar lebih mudah untuk menghargai nilai makanan baru. Mereka sudah menyadari bahwa kentang merupakan sumber pangan yang bisa tumbuh di berbagai kondisi cuaca, dan tahan lama setelah di panen, dan merupakan solusi yang baik untuk mencegah bahaya kelaparan saat gagal panen.

Sementara khalayak umum masih curiga dengan makanan baru yang datang dari Amerika Selatan ini.  Ketika Frederick the Great memerintahkan rakyatnya untuk menanam kentang sebagai pencegahan atas kemungkinan bencana lapar, mereka protes, "Bahkan anjing pun tidak mau makan kentang, kenapa kami harus makan makanan seperti itu?"

Untungnya Frederick the Great tidak kehilangan akal. Dia memang seorang yang cerdik, ahli perang yang juga teman diskusi Voltaire ini menggunakan reverse psychology untuk membujuk orang-orang agar mau menerima kentang. Dia menanam kebun kentang kerajaan di dekat hunian penduduk. Perkebunan tersebut dijaga oleh pasukan pengawal siang malam. Warga menjadi penasaran, dan berpikir bahwa apapun yang dijaga ketat, pasti berharga dan layak untuk dicuri. Akhirnya "kentang kerajaan" pun mulai menjadi populer dan bisa dinikmati masyarakat Eropa sampai saat ini.

Kentang

Doa

  رب اغفر لي و لوالدي  رب ارحمهما  كما ربياني  صغيرا
Rabbighfir li waliwalidayya, rabbi-rhamhuma kama rabbayani saghira.
Lord, forgive me and my parents, bestow mercy upon my parents,
as they brought me up when I was young.

Pada hari ke dua di bulan Ramadhan ini, Ananta mulai mencoba mengingat doa untuk orang tua di atas. Seperti biasa, selalu ada rasa  haru bercampur sedikit was-was. Perasaan yang pertama mudah dimengerti. 

Melihat seorang anak mendoakan orangtuanya, walaupun masih dengan terbata-bata. Terutama karena anak itu adalah anak tunggal (sementara ini), berarti di samping ibunya, salah satu dari yang dia doakan adalah saya.

Perasaan yang ke dua adalah rasa was-was. Ketika sang buah hati, mulai berdoa kepada yang maha Kuasa, agar Dia mencintai saya sebagaimana saya mencintainya waktu kecil. 

Akar dari rasa was-was ini adalah pertanyaan yang timbul, sudah cukupkah cinta dan kasih sayang masa kecil yang dia terima?  Seandainya belum cukup, apa yang bisa aku harap dari Mu, ya Allah, seandainya doa yang tulus itu terkabul?