Kepasrahan
Resignation is of two sorts, one rooted in despair,
the other in unconquerable hope.
~Bertrand Russel
Kepasrahan, menurut Bertrand Russel bisa berakar dari keputusasaan, tapi bisa juga berakar dari harapan yang tidak terpupuskan. Ketika seseorang memiliki suatu harapan yang melintasi batas kepentingan pribadinya, ketika seseorang percaya akan sesuatu tujuan mulia yang selama ini ingin dicapainya. Maka segala rintangan hidup akan dapat dijalani dengan keikhlasan dan kepasrahan yang bersumberkan pada harapan tersebut.
Kutipan di atas berasal dari salah satu buku Bertrand Russel yang mungkin jarang dibaca orang:The Conquest of Happiness. Buku tersebut ditulis pada saat Russel berusia 58 tahun, di ujung pernikahan yang ke dua saat istrinya mengandung janin yang ternyata bukan darah dagingnya sendiri, tetapi merupakan anak Griffin Barry, seorang jurnalis dari Amerika. Barangkali buku ini merupakan usaha Russel untuk menghadapi kenyataan yang pahit, dalam usahanya untuk tetap terus melangkah.
Ternyata dalam keadaan yang tertekan Bertrand Russel masih mampu menghasilkan buku yang menurut artikel ini mengandung pemikiran-pemikiran yang sejalan dengan Cognitive Therapy, salah satu metode terapi psikologis yang kalau saya tidak salah tangkap, berbeda dengan psychoanalysis-nya Freud atau behavioural therapy-nya Skinner.
(disclaimer: mulai dari kalimat ini ke bawah, kemungkinan besar isinya tidak akurat karena saya bukan psikolog, tapi ini hanya interpretasi dan pemahaman saya tentang artikel di atas).
Freud berusaha menggali alam bawah sadar, karena percaya bahwa dengan memahami apa yang ada di alam bawah sadar, apa yang ada di alam sadar bisa lebih mudah dimengerti. Sementara terapi kognitif mencoba untuk menggunakan pemikiran di alam sadar (conscious thought) untuk mempengaruhi apa yang berjalan secara otomatis di alam bawah sadar (subconscious thoughts).
Alam bawah sadar biasanya berjalan secara otomatis. Automatic thoughts,secara tidak sadar ada pemikiran yang bisa memicu munculnya pemikiran lain tanpa kita sadari. Kadang pemikiran otomatis ini tidak rasional, tidak masuk akal tapi berjalan secara otomatis sehingga akhirnya berujung dengan kecemasan, depresi dan ketidak tenangan batin.
Apa kata Russel tentang bagaimana kita mesti menyikapi pemikiran otomatis yang punya kecenderungan untuk berpikir negatif dan selalu cenderung meramalkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi ?
When some misfortune threatens, consider seriously and deliberately what is the very worst that could possibly happen. Having looked this possible misfortune in the face, give yourself sound reasons for thinking that after all it would be no such very terrible disaster. Such reasons always exist, since at the worst nothing that happens to oneself has any cosmic importance.
When you have looked for some time steadily at the worst possibility and have said to yourself with real conviction, "Well, after all, that would not matter so very much", you will find that your worry diminishes to a quite extraordinary extent.
Apa yang dikatakan Russel ini ternyata sejalan dengan dasar-dasar terapi kognitif yang baru tiga puluh tahun kemudian mulai dipraktekkan. Saat menghadapi kecemasan dan ketidak pastian, kita mungkin bisa mencoba merunut jalan pikiran yang menjadi akar kecemasan ini, barangkali ada pemikiran otomatisyang sebenarnya tidak rasional dan tidak perlu didengarkan.
Sehingga apapun yang terjadi akhirnya bisa dihadapi dengan kepasrahan yang tetap berlandaskan pada pengertian, penerimaan dan harapan.
Didedikasikan untuk seorang penggemar BB Russel di Indonesia,
yang sepertinya sekarang sedang gelisah.