Propaganda

Waktu anak saya mengambil buku ini untuk dipinjam dari perpustakaan saya kaget: "Lho kok tumben pinjem buku yang bukan tentang Dinosaurus ?" Itu  ada bendera Axis, seperti yang di Enemy Territory. Ternyata bocah itu salah ambil buku karena lambang Swastika yang ada di game. Dia hanya tertarik dengan gambarnya.

Untung Ananta hanya tertarik dengan gambarnya, bukan propagandanya. Judul buku itu serem: Propaganda in oorlog & vredestijd, het manipuleren van de waarheid (propaganda di masa perang dan masa damai, manipulasi kebenaran) .  Mau jadi apa kalau kecil-kecil sudah tertarik untuk belajar bagaimana caranya memanipulasi kebenaran ?

Gambar-gambar di buku ini tidak terlalu banyak, tidak menarik untuk anak kecil, tapi karena kadung dipinjam akhirnya buku itu pun dibaca oleh ayahnya. Karena tidak berminat untuk mendalami propaganda, saya hanya baca sekilas beberapa halaman awal dan akhir.  Pada bagian awal ada definisi propaganda sebagai mekanisme untuk menggunakan informasi dalam rangka memanipulasi opini publik, terlepas dari kebenaran ataupun kelengkapan dari informasi yang disajikan.

Pada bab terakhir ada penjelasan tentang Institute for Propaganda Analysis yang dibangun di Amerika pada tahun 1937. Lembaga ini didirikan atas dasar kekhawatiran karena banyaknya propaganda di masa-masa menjelang perang dunia ke II. Banyaknya propaganda ini melemahkan kemampuan publik untuk berpikir kritis dan memiliki opini sendiri, sehingga mereka menjadi sangat mudah dipengaruhi. IPA mengidentifikasi 7 instrumen propaganda yang perlu diwaspadai.

Untuk menghindari diskusi yang objektif dan kritis tentang suatu masalah, teknik naam noemen (name calling) bisa digunakan. Panggil saja seorang politisi sebagai pembohong, penculik, atau koruptor berlumpur, maka diskusi selanjutnya dijamin akan berlanjut emosional :D.

Mendobos dengan menggunakan jargon-jargon indah yang membuai seperti misalnya demokratis, demi masyarakat madani, reformasi, kebijaksanaan lokal akan membangkitkan emosi positif korban propaganda. Apapun yang berikutnya diucapkan bisa secara tidak sadar diamini oleh pendengar karena terlanjur terbuai oleh jargon-jargon indah yang diselipkan. Teknik ini dikenal dengan sebutan schoene algemeenheid (glittering generalities).

Minjem nama orang lain untuk kesaksian juga sepertinya dianggap sebagai teknik yang ampuh. Misalnya gunakan saja pendapat tokoh agama untuk memperkuat pendapat anda. Teknik overdracht (transfer) dan getuigenistechniek (testimony) ini sering digunakan sejak jaman Orde Baru, "para tokoh agama ingin Haji Suharto jadi presiden lagi !"  adalah teknik lagu lama yang dulu sering terdengar sampai bosan selama lebih dari 30 tahun.

Penggunaan kata Orde Baru sendiri sebenarnya merupakan salah satu contoh glittering generalities tadi, ndobos menggunakan kata-kata "Baru" yang terkesan menjanjikan, penuh harapan dan tetap digunakan sampai orde baru itu sudah hancur puluhan tahun kemudian.

Pada jaman perang dunia ke dua Hitler menggunakan teknik gewone volk (plain folks) menempatkan diri sebagai orang biasa. Orang biasa yang sama dengan target propaganda, yang sangat peduli dengan kepentingan bangsanya. Teknik ini biasanya digunakan bareng dengan teknik meelopen (bandwagon), kalo semua orang ikut mendukung Hitler masa kamu ketinggalan ? Ayo ikut. Kira-kira dulu propaganda Nazi begitu.

Teknik propaganda lain yang biasa digunakan juga adalah kaarten steken (card stacking), kalau ada informasi baik dan buruk tentang sesuatu, kita bisa memilih hanya untuk membahas yang baik-baiknya saja jika ingin melakukan propaganda positif, atau memilih untuk mengungkapkan yang buruk-buruknya saja jika ingin membuat citra negatif. Memilah informasi sesuai kebutuhan ini sudah biasa kita lihat sehari-hari dalam iklan-iklan yang mempromosikan produknya ataupun juga  media yang menjadi corong kepentingan politik tertentu.

Makanya hati-hati dengan para ahli periklanan yang sudah terbiasa melakukan propaganda positif terhadap produknya. Begitu mereka masuk ke lahan politis, mereka akan jadi propagandist yang handal :)

Posted | Viewed
times